ritual penolak hujan untuk berbagai acara dan hajatan

Dalam tradisi adat Jawa, setiap kali masyarakat ingin menggelar suatu acara, seperti pesta, hajatan, upacara pasti akan diawali dengan acara ritual tradisi keselamatan dan kelancaran dalam menggelar acara tersebut.

ritual tradisi tersebuta selain sebagai wujud keselamatan bagi yang punya hajat, sekaligus untuk penolak bala dan penolak hujan agar senantiasa acara pesta, upacara atau hajatan dapat berjalan lancar. karena sejatinya meminta cuaca yang bagus dalam sebuah acara merupakan salah satu hal yang penting demi suksesnya acara yang di adakan. dengan cuaca yang bagus tidak adanya hujan selama acara maka berbagai kegiatan dapat berjalan secara maksimal, tamu tidak ada hambatan untuk berkunjung, terbebas dari banjir, apabila ada pagelaran hiburan seperti wayang, dll maka akan dihadiri penonton yang ramai.

ritual penolak hujan untuk berbagai acara dan hajatan

ritual penolak hujan sejatinya bukan untuk menolak hujan yang sudah menjadi kodrat alam, melainkan memindahkan hujan. karena meskipun kadang manusia tidak menginginkan datangnya hujan disaat-saat tertentu namun apabila hujan tidak ada maka kehidupan akan mengalami kekeringan. oleh karena itu tujuan penolak hujan adalah untuk mengalihkan hujan ke tempat lain sementara waktu sampai acara yang kita inginkan selesai.

Dalam Budaya Jawa, upacara ritual tolak hujan bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai cara, diantaranya dengan memakai sesaji, doa/ mantera dan kekuatan spiritual. ritual ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang melainkan oleh pawang hujan. ketiga kekuatan tersebut disatukan hingga memiliki kekuatan ghaib yang di ucapkan sebagai mantera dengan memohon ridho kepada Tuhan agar hujan bisa disingkirkan dan di pindahkan ke tempat lain untuk sementara waktu.

selain dengan acara ritual diatas, ada beberapa cara menolak atau menyingkirkan hujan yang sering dilakukan oleh para sesepuh dan leluhur kita jaman dahulu, meskipun bukan seorang pawang hujan. salah satunya adalah dengan cara mendirikan sapu lidi di tengah tanah lapang atau halaman sembari menancapkan berbagai macam bumbu dapur. Beberapa bumbu ini diantaranya adalah bawang merah, lombok, kunyit, jahe dan dlingo bengle. cara ini konon sangat ampuh jika datang hujan dan angin yang kuat, setelah ditancapkan sapu lidi dan bumbu dapur maka lambat laun hujan dan angin akan reda dan berhenti.

cara menggunakan sapu lidi tersebut ternyata memiliki dongengnya. menurut cerita nenek saya jaman dahulu ada satu keluarga yang hidup di hutan, saat itu sang suami sedang pergi mencari ikan disungai sedangkan sang istri bersama anaknya menunggu dirumah dan menyiapkan bumbu dapur untuk memasak hasil ikan tangkapan nantinya. bumbu dapur rencana akan dibakar dahulu sebelum dibuat sambal dengan ditusuk menggunakan sapu lidi seperti sate. hari sudah mulai gelap, namun sang suami belum kunjung pulang. padahal hari mau hujan. tidak berapa lama turunlah hujan dengan sangat derasnya disertai angin yang kencang. perasaan khawatirpun datang menyelimuti istrinya. takut terjadi banjir bandang yang akan menenggelamkan suaminya disungai akhirnya dengan berbagai cara sang istri lakukan untuk meredakan hujan tersebut. karena kehabisan akal bumbu dapur yang hendak dibakar akhirnya diikat menjadi satu lalu di tancapkan ke tanah, sebagai bentuk protes terhadap dewa langit karena anaknya sudah lapar dan menunggu sang ayah pulang membawakan ikan untuk dimasak. setelah sapu lidi tadi ditancapkan ternyata hujan berhenti seketika. tidak berapa lama suaminya pun pulang kerumah. dari cerita itulah akhirnya dipercaya turun-temurun bahwa sapu lidi yang di kasih bawang merah dan bawang putih mampu menghentikan hujan.

Selain dengan cara mendirikan sapu lidi di tengah tengah halaman, sesaji komplit juga dilakukan oleh para tokoh spiritual pada saat melakukan upacara ritual tolak hujan. Sesaji ini memiliki kekuatan khusus sebagai perantara atau pendorong doa pada saat mantera di ucapkan. Sesaji yang dipergunakan untuk upacara tolak hujan diantaranya adalah, pisang setangkep, kopi kental, teh manis, gecok bakal, sodo lanang, jajan pasar, ubi ubian, bunga wewangian serta kemenyan madu.

Sesaji ini dipergunakan sebagai salah satu perwujudan rasa syukur kepada Gusti Allah, sekaligus penghaturan selamatan rasa syukur kepada para leluhur agar berkenan membantu menjaga kelancaran upacara resepsi tak terkecuali menyingkirkan hujan. Penghaturan sesaji kepada para leluhur sudah sejak dari jaman dahulu kala telah dikenal di kalangan masyarakat Jawa, tak hanya dipergunakan pada saat ritual tolak hujan, sesaji sesaji ini juga biasa dilakukan menjelang bulan puasa atau bulan ruwah dalam penanggalan Jawa.