prosesi lamaran dalam pernikahan adat jawa

yang dimaksud dengan lamaran adalah ketika bapak/ keluarga dari laki-laki mendatangi keluarga si perempuan untuk meminta restu atau persetujuan agar orang tua perempuan uintuk meminta anaknya jadi calon menantunya. dalam lamaran ini orang tua laki-laki akan menceritakan tentang kelebihan dan kekurangan dari anaknya. dalam lamaran ini biasanya hadir kakek dari pihak peempuan atau sesepuh untuk meramal perjodohan mereka, yang di hitung melalui weton kelahiran keduanya. apabila cocok maka dapat di lanjutkan, namun apabila tidak cocok maka akan di cari hitungan jawa lainnya dengan melihat untung rugi dari firasat perjodohan tersebut. dan apabila dari hasil hitungan perjodohan menghasilkan firasat yang sangat buruk maka lamaran ini bisa ditolak oleh pihak keluarga perempuan.

prosesi lamaran dalam pernikahan adat jawa

setelah melalui perhitungan jodoh dan mendapatkan ramalan yang bagus, maka pihak perempuan akan menentukan tentang diterima atau tidaknya lamaran tersebut. apabila diterima maka biasanya mereka akan melakukan hitungan untuk merencanakan perkawinan, dengan mencari hari baik untuk ijabnya tersebut. lamaran ini juga sering disebut pertunangan mengikat si perempuan dengan cincin sebagai tanda bahwa si perempuan sudah di miliki oleh orang.

dalam tata cara lamaran ini, keluarga laki-laki waktu berkunjung ke keluarga perempuan membawa peningset, tanda pengikat guna meresmikan adanya lamaran dimaksud. Sedangkan peningsetnya yaitu 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng yang mana tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam) potong bahan kebaya zijdelinnen dan voal berwarna dasar aneka, serta 6 (enam) selendang pelangi berbagai warna dan 2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan yang dilamar (kelak dipakai pada hari perkawinan). Peningset diletakkan di atas nampan dengan barang-barang tersebut dalam kondisi tertutup. Orang yang pertama kali mengawinkan anak perempuannya dinamakan mantu sapisanan atau mbuka kawah, sedang mantu anak bungsu dinamakan mantu regil atau tumplak punjen.