pedoman belajar perhitungan weton yang menjadi asal mula neptu hari dan pasaran untuk perjodohan dan kehidupan manusia

pada jaman dahulu orang-orang selalu melakukan perhitungan dalam menentukan apa saja yang dilakukan manusia. dasar daripada perhitungan itu adalah dari weton manusia atau hari dan pasaran kelahiran, oleh karena itu sering kita lihat pada kalender ada tanggal jawa dan pasaran hari . hal inilah ang digunakan orang tua kita untuk menjadi pedoman dalam melakukan ramalan dan perhitungan guna mencari jodoh, mencari hari baik untuk melakukan segala hal, melihat pantangan dan hari naas.

di dalam perhitungan jawa ini ternyata tidak hanya dipakai oleh orang jawa saja namun hampir seluruh masyarakat yang ada di indonesia kala itu. seseorang yang akan menentukan pendamping hidup harus melalui ramalan jodoh, dari mulai watak dan peri laku kedua pasangan, baik buruknya rumah tangga nantinya , hari yang baik untuk pelaksanaan akad nikahnya. semua itu berdasar pada weton masing-masing .

berikut istilah yang digunakan dalam perhitungan jawa sebagai pedoman untuk menentukan berbagai ramalan kehidupan :

1. Wasesa – Segara
Budi yang berwenang menjangkau tingkatan kehidupan yang luhur di alam dunia ini

2. Tunggak – Semi (patah tumbuh)
Hasil (prestasi) dari pada budi menjelmakan budaya lahirnya budaya disebabkan oleh tercapainya jangkauan (cita-cita) hidup di alam dunia ini

3. Satria – Wibawa
Terpenuhinya cita-cita hidup di dunia ini

4. Satria – Wirang
Hidup senantiasa berusaha mencapai kesempurnaan dalam tingkatan utama, agar tidak sampai jatuh nista (sengsara) yang menjadi sasaran penghinaan

5. Bumi – Kapetak (mati berkalang tanah)
Akhir kehidupan dimuka bumi ini

6. Debu tertiup angin
Hidup tanpa arti, sampai tersusul pati

7. Dalil Panca Suda Aseli
Terciptanya kepandaian karena pengembangan dan terpeliharanya budi yang meninggalkan bekas (jasa)

pedoman belajar perhitungan weton  yang menjadi asal mula neptu hari dan pasaran untuk perjodohan dan kehidupan manusia

Untuk lebih jelasnya ikuti penjelasannya sebagai berikut:
0+1
0= Sabtu : hari penghabisan, yaitu tercapainya titik akhir artinya berakhirnya masa kebodohan menjadi pintar/ pandai, sebagai hasil pengembangan budi.
1= Legi (manis) merupakan awal dari hari pasaran , terciptanya purba, artinya: Permulaan, sebagai pangkal mulanya kepandaian setelah bodoh, yaitu berarti juga sebagai hasil pengembangan budi.
0+1 = Sabtu Manis(legi) : pengahbisan waktu ( batu gunung: bertujuan menyongsong datangnya SRIGATI)
0+1 = Sabtu Manis (legi).
Hari penghabisan (wasesa) dan awal pasaran (purba) paduan ini melambangkan “Wasesa-Segara” artinya purba wasesanya budi, yang mengandung artian sebagai permulaan hidup, sejak lahir dari rahim sang ibu, sudah dibekali budi, yang mulanya bodoh menjadi pandai ( sejak masih dalam kandungan sudah berbakat pandai). Budi inilah yang menjadi senjata kekuatan untuk menjangkau tingkatan hidup yang luhur dialam raya ini.

1+1, Letaknya antara 0+1 dan 1+2.
Artinya : terletak antara Wasesa-Segara dan Satria Wibawa atau antara awal akhirnya budi dan satria kuasa bebas (merdeka), di tengah – tengah berlambang : Tunggak-Semi ( patah tumbuh) artinya pohon hidup menjelmakan hidup (hasil dari pengembangan budi menciptakan budaya). Karena adanya kebudayaan, manusia hidup di muka bumi mampu mencapai cita – cita yang luhur.

1+2.
1= Minggu = permulaan hari dan waktu serta berlambangkan purba artinya awalan
2= Pahing = permulaan waktu (sinta), berlambangkan kekuasaan artinya berwenang (mempunyai wenang)
1+2= Minggu Pahing.

Permulaan waktu sinta, berdirinya wenang paduan ini mengandung arti yang berkuasa di lambang Satria-Wibawa ( satria berkuasa merdeka) maksudnya tercapainya cita-sita satria di dalam perjalanan hidupnya di muka bumi.
2+2.

Terletak antara 0+1 dengan 1+2 artinya Satria-Wibawa dengan berkalang Tanah. Jadi satria wibawa adalah antara kuasa dan apes ( jatuh) dan dilambangkan satria bercermin bangkai(malu).
Malunya seorang satria apabila hidup nista (hina). Sebab pendirian seorang satria adalah : lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidupnya bercermin bangkai. Sungguhpun begitu pati seorang satria masih tetap menempuh cara utama. Kesimpulannya adalah manusia yang tergolong jiwa satria sudah termasuk insan yang berbudi luhur, yang selalu berusaha melakukan tindakan yang utama. Bergulat melawan nafsu rendah ( nista dan hina), yang hanya menyebabkan malu dalam hidupnya, sampai tiba saatnya menemui ajal (mati).
2+3= Senin Pon

Ini merupakan hari yang menuju sampar bangkai ( menyentuh Bangkai) dan menghampiri manusia terkapar.
Artinya petakanya manusia bumi kapetak dan berkalang tanah yang juga dapat di artikan : terpendam di dalam bumi , sebagaimana asal manusia tercipta dari tanah lalu menjadi tumbuh lahiriah, apabila sudah saatnya terpendam dalam bumi sebagai akhir kehidupan di muka bumi.
Bagaimana halnya dengan nyawa setelah tubuh lahir terkubur, justru timbulnya tanda tanya seperti inilah maka manusia hidup menggunakan akal fikirannya untuk menggali ilmu pengetahuan demi kesempatan kehidupannya.
3+3

Diantara 2+3 dengan 3+4 yang berarti terletak antara : “berkalang tanah” dengan “lahirnya panca suda asli” (akhir hayat jumpa pati dengan berkembangnya akal pikiran yang lahir dari kekuasaan budi, yang juga berarti : terletak antara tanpa bekas dengan meninggalkan bekas/jasa. Letak pertengahan ini dilambangkan sebagai : debu tertiaup angin, artinya bekas kehidupan hanya ibarat debu tersapu angin laluyang hanya mengotori tempat suci ( bersih).

Itupula sebabnya segala ilmu yang bertujuan “kesempurnaan hidup” selalu berisikan petuah , nasehat, dan pedoman para ahli falsafah dan ahli kejiwaan, yang menuntut diperjuangkannya titik keutamaan hidup, supaya hidup senantiasa bersih dari noda dan dosa, penuh dengan bekas amal dan jasa, bagi sesama umat , sehingga tercapailah makna pepatah kuno “harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan Gading kmudian manusia mati meninggalkan nama dalam artian hendaknya meninggalkan bekas yang berupa amal dan kebaikan atau jasa .
3+4= Selasa Wage

Asal mula dalil perhitungan Panca Suda Asli, yaitu permulaan lahirnya : pengembangan akal pikiran kepandaianyang terjelma dari kekuasaan budi merupakan titik tolak perhitungan NAPTU hari dan pasaran. Sebagai pedoman dari segala macam dalil primbon yang turun temurunyang telah dianut oleh orang indonesia, khususnya dari pulau jawa.

Adapun istilah NEPTU berasal dari kata –kata yang berarti cocok atau sesuai , sebagai mana orang dalam sebuah bilangan menyebut 2×2 = 4, ini adalh cocok ( menyamakan dengan kehidupan dan tujuan hidup)
Asal mulanya adalah sebagai berikut:
Hari selasa disebut neptunya 3, memang jika kita hitung secara berturut-turut, dari permulaan hari. Hari pertama adalah minggu ( ahad). Dengan begitu sudah jelas hari selasa jatuh pada hari ketiga. Lihat contoh berikut ini :

Minggu (ahad) = hari ke 1
Senin                  = hari ke 2
Selasa                 = hari ke 3
Rabu                   = hari ke 4
Kamis                 = hari ke 5
Jum’at                = hari ke 6
Sabtu                  = hari ke 7

Begitulah Neptu pasaran, mengapa wage disebut neptunya 4? Berikut penjelasannya:

Legi(manis) = pasaran ke 1
Pahing          = pasaran ke 2
Pon                = pasaran ke 3
Wage             = pasaran ke 4
Kliwon          = pasaran ke 5
Jadi Selasa Wage neptunya adalah 3+4.

Adapun neptu hari dan pasaran : kalau neptu hari dimulai pada neptu ke 4 sampai 9, neptu pasaran dari 5 sampai 9. Cara penyusunan ini , menurut penemuan ahli nujum dari sarjana ilmu perhitungan (Primbon), tidak semata-mata berdasarkan urutan hari minggu sebagai hari pertama dan legi sebagai pasaran ke 1 seperti tersebut diatas.

Perhitungan Panca suda aselimemakai pedoman berdasarkan atas 3 patokan

pedoman belajar perhitungan weton  yang menjadi asal mula neptu hari dan pasaran untuk perjodohan dan kehidupan manusia

Dibagi menjadi 2 angkatan bilangan, kembali pada permulaan :
Bilangan 1 1 = Wasesa Segara (kekuasaan laut)
Bilangan 2 2 = Tunggak semi (patah tumbuh)
Bilangan 3 3 = Satria Wibawa
Bilangan 4 4 = Satria Wirang (malu)
Bilangan 5 5 = Bumi Kapetak (berkalang tanah)
Bilangan 6 6 = Lebu ketiup Angin ( debu tertiup angin)

Disusun menjadi 12 bilangan , 7 sampai 18:
Bilangan 7 13 = WASESA SEGARA
Bilangan 8 14 = TUNGGAK SEMI
Bilangan 9 15 = SATRIA WIBAWA
Bilangan 10 16 = SATRIA WIRANG
Bilangan 11 17 = BUMI KAPETAK
Bilangan 12 18 = LEBU KETIUP ANGIN

Dari penemuan ahlinya maka lahirlah suatu perhitungan neptu hari dan pasaran, yang kemudian menjadi pedoman untuk memperhitungkan segala macam perhitungan (primbon) yang sebagai man sudah disebut pada lembaran di muka, banyak dianut oleh masyarakat pulau jawa (orang jawa) khususnya.
Untuk lebih jelasnya harap dibaca uraian :
1. Perhitungan Panca Suda Asli
2. Perhitungan Panca Suda dalam pawukuan
3. Perhitungan Panca Ringkas