hitungan perjodohan

setiap manusia telah di tentukan jodohnya oleh Yang Maha kuasa, maka jodoh itu semakin mengejar kemana orang itu berada. sehingga ada pepatah mengatakan ” kalau sudah
jodoh tidak akan lari kemana”. dan itu semua termasuk kata tersirat , akan tetapi kata kata tersebut selalu muncul ke dalam diri seseorang ketika waktunya sudah datang
(jodohnya).

 

Dalam buku primbon jawa telah ditulis mengenai hitungan perjodohan dengan sangat hati- hati sekali, tentang cara mencari jodoh. jadi masalah tersebut tidak boleh
serampangan dan sembarangan untuk menentukan calon pendamping hidup, harus ada hitung-hitungannya. mengapa antara jodoh dan hitungan perjodohan tidak boleh dipisahkan
dalam mempengaruhi hidup berumah tangga? karena keduanya tersebut dibuat patokan dalam menentukan sebuah perkawinan. tujuannya adalah agar yang bersangkutan terhindar
dari bencana -bencana dalam mempengaruhi hidup berumah tangga.

untuk mengetahui perhitungan – perhitungan dalam jodoh, maka dapat dipelajari cara-cara sebagai berikut. yaitu cara menghitungnya antara neptu wanita dan neptu
kelahiran laki-laki, kemudian dijumlahkan dan dibagi dengan 7 (tujuh). sisa dari perhitungan tersebut baru dapat diketahui apakah nantinya akan baik atau buruk bagi
pasangan yang akan berumah tangga.

NEPTU HARI DAN PASARAN
1. Hari :
– sabtu = 9
– minggu = 5
– senin = 4
– selasa = 3
– rabu = 7
– kamis = 8
– jumat = 6

2. Pasaran
– pahing = 9
– pon = 7
– wage = 4
– kliwon = 8
– legi = 5

contoh:
pengantin laki-laki lahir pada sabtu pahing neptunya = 9+9 = 18
pengantin wanita lahir pada selasa kliwon neptunya = 3+8 = 11
jumlah kedua pengantin laki-laki dan perempuan = 18+11 =29
hasil perhitungan 29 dibagi menjadi 7 sisa 1, akan jatuh pada hitungan perjodohan aau firasat WASESA SEGARA.

nah untuk mengetahui nasib perjodohan tersebut antara cocok dan tidaknya maka perhatikan jatuhnya tempu dari hasil sisa pembagian seperti contoh diatas.- jika sisa 1 (satu) jatuhnya WASESA SEGARA
artinya perjodohannya kelak akan mendapat wibawa dalam kehidupan di lingkup masyarakat
– jika sisa 2 (dua) jatuhnya TUNGGAK SEMI
artinya perjodohannya kelak akan mudah mendapatkan sandang pangan dan rezeki
– jika sisa 3 (tiga) jatuhnya SATRIA WIBAWA
berarti mendapat anugrah dan dimulyakan
– jika sisa 4 (empat) jatuhnya SUMUR SINABA
artinya kelak perjodohannya akn dijadikan panutan bagi orang lain
– jika sisa 5 (empat) jatuhnya SATRIA WIRANG
artinya kelak perjodohannya akan mengalami penderitaan dalam hidup berumah tangga
– jika sisa 6 (lima) jatuhnya BUMI KAPETAK
artinya perjodohan kelak akan sering mendapat cobaan yang membuat aib dan malu
– jika sisa 7 (enam) jatuhnya LEBU KETIUP ANGIN
artinya akan mendapat musibah dan malapetaka yang besar

3 Comments